Loading...

Rohani Islam (Rohis)

Loading...
Rohani Islam (Rohis) - Hallo sahabat Guru pintar, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Rohani Islam (Rohis), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel GURU, Artikel GURU MAPEL, Artikel IPTEK, Artikel RUANG GURU, Artikel SERTIFIKASI, Artikel TUGAS, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Rohani Islam (Rohis)
link : Rohani Islam (Rohis)

Baca juga


Rohani Islam (Rohis)



Rohani Islam (Rohis)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Rohani Islam (Rohis)

Peter Salim dan Yenni Salim (1995, hlm. 1132) mengemukakan “kerohanian Islam berasal dari kata dasar rohani yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an yang berarti hal-hal tentang rohani”. Sedangkan menurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro (2000, hlm. 124) “kata kerohanian islam ini sering disebut dengan istilah rohis yang berarti sebagai suatu wadah besar yang dimiliki oleh siswa untuk menjalankan aktivitas dakwah di sekolah”.
Ekstrakurikuler rohis merupakan sekumpulan siswa atau kelompok siswa atau wadah tertentu untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang sama dalam badan kerohanian, sehingga siswa yang tergabung di dalamnya dapat mengembangkan diri berdasarkan konsep nilai-nilai keislaman.
Kegiatan ekstrakurikuler tidak terbatas pada program untuk membantu ketercapaian tujuan kurikuler saja, tetapi mencakup pemantapan dan pembentukan kepribadian yang utuh, termasuk pengembangan minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler harus dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menunjang kegiatan kurikuler, maupun pembentukan kepribadian yang menjadi inti kegiatan ekstrakurikuler.
Sebagai suatu ekstrakurikuler di sekolah, rohani Islam tentunya memiliki tujuan yang jelas. Tujuan umum penyelenggaraan ekstrakurikuler rohani Islam di sekolah menurut Handani Batjan Adz-Dzaky (2002, hlm. 18), antara lain:
1. Membantu siswa mewujudkan diri menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
2. Memberikan pertolongan kepada setiap siswa agar sehat secara jasmaniah dan rohaniah.
3. Meningkatkan kualitas keimanan, ke-Islaman, keihsanan, dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari dan nyata.
4. Mengantarkan siswa mengenal, mencintai, dan berjumpa dengan esensi diri dan citra diri serta dzat yang Maha Suci, yakni Allah swt.
Adapun tujuan khusus penyelenggaraan ekstrakurikuler rohani Islam di sekolah menurut Ainur Roqim Faqih (2001, hlm. 36), sebagai berikut:
1. Membantu siswa agar terhindar dari masalah.
2. Membantu siswa mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
3. Membantu siswa memelihara dan mengembangkan situasi serta kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.
Rohis memiliki tugas yang cukup serius, yakni sebagai lembaga dakwah. Hal ini dapat dilihat dari adanya kegiatan-kegiatan yang tidak hanya diikuti oleh anggotanya saja, melainkan seluruh jajaran yang ada di sekolah. “Dakwah secara kelembagaan yang dilakukan rohis adalah dakwah aktual, yaitu terlibatnya rohis secara langsung dengan obyek dakwah melalui kegiatan-kegiatan bersifat sosial keagamaan” (Manfred Oepen dan Walfgang Karcher, 1987, hlm. 92).
Beberapa kegiatan ektrakurikuler rohis di sekolah yang dapat dilakukan menurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro (2000, hlm. 139-140), diantaranya:
1. Dakwah ammah (umum)
Dakwah ammah merupakan dakwah yang dilakukan dengan cara yang umum. Dakwah ammah di sekolah merupakan proses penyebaran fitrah Islamiyah dalam rangka menarik simpati dan meraih dukungan dari lingkungan sekolah. Maka, dakwah ini perlu dikemas secara menarik, sehingga banyak yang berminat untuk mengikuti.
Dakwah ammah (umum), meliputi:
a. Penyambutan siswa baru
Program ini khusus diadakan untuk menyambut siswa baru. Target program ini adalah mengenalkan siswa baru dengan berbagai kegiatan dakwah sekolah, para pengurus, dan alumni.
b. Penyuluhan problem remaja
Program penyuluhan problematika remaja, seperti narkoba, tawuran, dan seks. Program ini menarik minat para siswa karena permasalahan seperti ini sangat dekat dengan kehidupan mereka dan dapat memenuhi rasa ingin tahu mereka secara positif.
c. Studi dasar Islam
Studi dasar Islam merupakan program kajian dasar Islam yang materinya tentang akidah, makna syahadat, mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam, dan mengenal Al-Qur’an.
d. Perlombaan
Program perlombaan biasanya disertakan dalam program utama Perayaan Hari Besar Agama Islam (PHBI). Hal ini merupakan wahana menjaring bakat dan minat para siswa di bidang keagamaan, ajang silaturahmi antar kelas, dan syiar Islam.
e. Majalah dinding
Majalah dinding memiliki dua fungsi, yakni sebagai wahana informasi keislaman dan pusat informasi kegiatan Islam, baik internal sekolah maupun eksternal.
f. Kursus membaca Al-Quran
Program ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan pihak guru agama Islam di sekolah, sehingga mereka turut mendukung dan menjadikannya sebagai bagian dari penilaian mata pelajaran agama Islam.
2. Dakwah khashah (khusus)
Dakwah khashah adalah proses pembinaan dalam rangka pembentukan kader-kader dakwah di lingkungan sekolah. Dakwah khashah bersifat selektif, terbatas, dan lebih berorientasi pada proses pengaderan dan pembentukan kepribadian. Obyek dakwah ini memiliki karakter yang khashah (khusus), harus diperoleh melalui proses pemilihan dan penyeleksian.
Dakwah khashah, meliputi:
a. Mabit
Mabit adalah bermalam bersama, diwali dari magrib atau isya dan diakhiri dengan shalat shubuh.
b. Diskusi atau bedah buku
Diskusi atau bedah buku ini merupakan kegiatan yang bernuansa pemikiran dan wawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertajam pemahaman, memperluas wawasan, dan meluruskan pemahaman.
c. Daurah (pelatihan)
Daurah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada siswa, misalnya daurah Al-Quran (bertujuan untuk membenarkan bacaan Al-Quran) dan sebagainya.
d. Penugasan
Penugasan yaitu suatu bentuk tugas mandiri yang diberikan kepada siswa. Penugasan tersebut dapat berupa hafalan Al-Quran, hadist, atau penugasan dakwah.

Referensi
Adz-Dzaky, H. B. (2002). Konseling dan Psikoterapi Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Faqih, A. R. (2001). Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.
Koesmarwanti, & Widiyantoro, N. (2000). Dakwah Sekolah di Era Baru. Solo: Era Inter Media.
Oepen, M., & Karcher, W. (1987). Dinamika Pesantren, Dampak Pesantren dalam Pendidikan. Jakarta: P3M.
Salim, P., & Salim, Y. (1995). Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Balai Pustaka.


Rohani Islam (Rohis)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Rohani Islam (Rohis)

Peter Salim dan Yenni Salim (1995, hlm. 1132) mengemukakan “kerohanian Islam berasal dari kata dasar rohani yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an yang berarti hal-hal tentang rohani”. Sedangkan menurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro (2000, hlm. 124) “kata kerohanian islam ini sering disebut dengan istilah rohis yang berarti sebagai suatu wadah besar yang dimiliki oleh siswa untuk menjalankan aktivitas dakwah di sekolah”.
Ekstrakurikuler rohis merupakan sekumpulan siswa atau kelompok siswa atau wadah tertentu untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang sama dalam badan kerohanian, sehingga siswa yang tergabung di dalamnya dapat mengembangkan diri berdasarkan konsep nilai-nilai keislaman.
Kegiatan ekstrakurikuler tidak terbatas pada program untuk membantu ketercapaian tujuan kurikuler saja, tetapi mencakup pemantapan dan pembentukan kepribadian yang utuh, termasuk pengembangan minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler harus dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menunjang kegiatan kurikuler, maupun pembentukan kepribadian yang menjadi inti kegiatan ekstrakurikuler.
Sebagai suatu ekstrakurikuler di sekolah, rohani Islam tentunya memiliki tujuan yang jelas. Tujuan umum penyelenggaraan ekstrakurikuler rohani Islam di sekolah menurut Handani Batjan Adz-Dzaky (2002, hlm. 18), antara lain:
1. Membantu siswa mewujudkan diri menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
2. Memberikan pertolongan kepada setiap siswa agar sehat secara jasmaniah dan rohaniah.
3. Meningkatkan kualitas keimanan, ke-Islaman, keihsanan, dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari dan nyata.
4. Mengantarkan siswa mengenal, mencintai, dan berjumpa dengan esensi diri dan citra diri serta dzat yang Maha Suci, yakni Allah swt.
Adapun tujuan khusus penyelenggaraan ekstrakurikuler rohani Islam di sekolah menurut Ainur Roqim Faqih (2001, hlm. 36), sebagai berikut:
1. Membantu siswa agar terhindar dari masalah.
2. Membantu siswa mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
3. Membantu siswa memelihara dan mengembangkan situasi serta kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.
Rohis memiliki tugas yang cukup serius, yakni sebagai lembaga dakwah. Hal ini dapat dilihat dari adanya kegiatan-kegiatan yang tidak hanya diikuti oleh anggotanya saja, melainkan seluruh jajaran yang ada di sekolah. “Dakwah secara kelembagaan yang dilakukan rohis adalah dakwah aktual, yaitu terlibatnya rohis secara langsung dengan obyek dakwah melalui kegiatan-kegiatan bersifat sosial keagamaan” (Manfred Oepen dan Walfgang Karcher, 1987, hlm. 92).
Beberapa kegiatan ektrakurikuler rohis di sekolah yang dapat dilakukan menurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro (2000, hlm. 139-140), diantaranya:
1. Dakwah ammah (umum)
Dakwah ammah merupakan dakwah yang dilakukan dengan cara yang umum. Dakwah ammah di sekolah merupakan proses penyebaran fitrah Islamiyah dalam rangka menarik simpati dan meraih dukungan dari lingkungan sekolah. Maka, dakwah ini perlu dikemas secara menarik, sehingga banyak yang berminat untuk mengikuti.
Dakwah ammah (umum), meliputi:
a. Penyambutan siswa baru
Program ini khusus diadakan untuk menyambut siswa baru. Target program ini adalah mengenalkan siswa baru dengan berbagai
Loading...
kegiatan dakwah sekolah, para pengurus, dan alumni.
b. Penyuluhan problem remaja
Program penyuluhan problematika remaja, seperti narkoba, tawuran, dan seks. Program ini menarik minat para siswa karena permasalahan seperti ini sangat dekat dengan kehidupan mereka dan dapat memenuhi rasa ingin tahu mereka secara positif.
c. Studi dasar Islam
Studi dasar Islam merupakan program kajian dasar Islam yang materinya tentang akidah, makna syahadat, mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam, dan mengenal Al-Qur’an.
d. Perlombaan
Program perlombaan biasanya disertakan dalam program utama Perayaan Hari Besar Agama Islam (PHBI). Hal ini merupakan wahana menjaring bakat dan minat para siswa di bidang keagamaan, ajang silaturahmi antar kelas, dan syiar Islam.
e. Majalah dinding
Majalah dinding memiliki dua fungsi, yakni sebagai wahana informasi keislaman dan pusat informasi kegiatan Islam, baik internal sekolah maupun eksternal.
f. Kursus membaca Al-Quran
Program ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan pihak guru agama Islam di sekolah, sehingga mereka turut mendukung dan menjadikannya sebagai bagian dari penilaian mata pelajaran agama Islam.
2. Dakwah khashah (khusus)
Dakwah khashah adalah proses pembinaan dalam rangka pembentukan kader-kader dakwah di lingkungan sekolah. Dakwah khashah bersifat selektif, terbatas, dan lebih berorientasi pada proses pengaderan dan pembentukan kepribadian. Obyek dakwah ini memiliki karakter yang khashah (khusus), harus diperoleh melalui proses pemilihan dan penyeleksian.
Dakwah khashah, meliputi:
a. Mabit
Mabit adalah bermalam bersama, diwali dari magrib atau isya dan diakhiri dengan shalat shubuh.
b. Diskusi atau bedah buku
Diskusi atau bedah buku ini merupakan kegiatan yang bernuansa pemikiran dan wawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertajam pemahaman, memperluas wawasan, dan meluruskan pemahaman.
c. Daurah (pelatihan)
Daurah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada siswa, misalnya daurah Al-Quran (bertujuan untuk membenarkan bacaan Al-Quran) dan sebagainya.
d. Penugasan
Penugasan yaitu suatu bentuk tugas mandiri yang diberikan kepada siswa. Penugasan tersebut dapat berupa hafalan Al-Quran, hadist, atau penugasan dakwah.

Referensi
Adz-Dzaky, H. B. (2002). Konseling dan Psikoterapi Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Faqih, A. R. (2001). Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.
Koesmarwanti, & Widiyantoro, N. (2000). Dakwah Sekolah di Era Baru. Solo: Era Inter Media.
Oepen, M., & Karcher, W. (1987). Dinamika Pesantren, Dampak Pesantren dalam Pendidikan. Jakarta: P3M.
Salim, P., & Salim, Y. (1995). Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Balai Pustaka.


Demikianlah Artikel Rohani Islam (Rohis)

Sekianlah artikel Rohani Islam (Rohis) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Rohani Islam (Rohis) dengan alamat link https://gurupintarmengajar.blogspot.com/2017/05/rohani-islam-rohis.html

Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :

0 Response to "Rohani Islam (Rohis)"

Post a Comment

Loading...